(belasungkawa untuk keluarga arwah Mahmud Saedon)

yang penuh taqwa dan iman
mati itu tetap dengan senyuman
mata dan mulut yang terkatup.
.
dan kita yang ditinggalkan
mulut terlompong. Resah. Kehilangan
terasa ingin mendustakan kebenaran.
.
berita yang kuterima tengahari itu:
Datuk Professor sudah pergi meningalkan kita!
untuk selamanya…
bagaimana mungkin?
.
dan aku menerjah lautan manusia tengahari itu
keruangan di mana dia sedang dikafankan
sempat kutatapi wajah yang pasrah
bersih, mulus dan terlihat indah
gagah menghadapi-Mu ya rabbi…
.
kukucupi dahi ibunya tanpa kata
namun mata kami bicara seribu makna!
.
kau yang pernah terpinggirkan
demi persahabatan, darah dan taat setia
syukurku pada percemaran duli mereka
turut belasungkawa.
.
wajah-wajah sedih yang terkejut. Kehilangan kata-kata
itulah kita sebenarnya:
acuh tak acuh di sisinya. Tercari-cari bila tiada:
kerana dia bukan lagi saingan kita!

Telanai, Julai 2002
Posted by syarif ali uraidhi on 24/10/2010 at 6:01 pm
inna lillahi wa inna ilaihi rojiun….kadang yg terbaik dan.. tercinta..dan selalu di rindui,cepat di panggil olehNYA…Allahummagfir lahu warhamhu wa aafihi wa’fu anhu…