Pada Saat Aku Mati II


(catatan buat isteri tercinta, Ulfa)

i

setiap detik yang berlalu. Aku tahu

menghampirkan aku ke liang lahad itu…

syukurku kepada-Nya. Menganugerahi nikmat

meniti hari-hari terakhirku bersamamu…

ii

hari ini genap tiga tahun kebersamaan kita

kebahagiaan terserlah dengan kaletah Batrisya

–         puteri yang kau hadiahkan

–         dan putera yang sebentar akan datang

pengikat kasih-sayang

yang kupasti tak pernah akan padam.

kasih-sayang yang kautunjukkan padanya

juga perhatian mereka. Mengundang hiba…

Sungguh. Kalau besok maut menjemput kudatang

aku akan pergi dengan senyuman…

iii

sejenak saat itu menyaksikan deritamu

bergelut dengan maut saat melahirkan

menyambung zuriat ahlul-baits. Dalam redha

dan menyedari kerdilnya diri…

iv

sesungguhnya, kalau besok aku dipanggil-Nya pulang

aku redha. Kuyakini sepenuh hati. Kasih-sayangmu pada mereka

yang terus subur. Membimbing dan mengasihi mereka. Selamanya…

dan aku tahu leluhur budi datuk dan nenek mereka

yang turut menumpahkan sepenuh kasih-sayang

–         pendidikan al-Quran

–         dan tunjuk-ajar tentang erti kemuliaan.

v

namun, aku akan terus memohon kepada-Nya

memberi izin untukku turut menyaksikan

anak-anak kita membesar. Hingga mampu berdiri sendiri

cekal dan tabah. Menghadapi masa depan yang semakin gundah.

dan aku pun terus ingin menikmati erti kasih-sayang

–         menyelami lubuk cintamu. Membahagiakan

–         mendengar tawa-tangis mereka. Yang mengasyikan

Camar Putih

11.52 malam, 27 Ogos 2009

Bicara Tentang Perang


kita merasa sedih

membicarakan kematian itu

mengutuk musuh

dari bilik berhawa dingin.

.

belasungkawa silih berganti

bersama tibanya body-bag kaku

“dia seorang pahlawan…”

demikian katamu di depan sang balu.

.

nyawa yang mereka pertaruhkan

demi sebuah maruah. Keangkuhan

Jendral tak pernah tumpas

dan cerut yang tak lepas di bibir.

.

darah yang tersimbah

pencuci noda manusia tamak haloba

diiringi derai airmata mereka yang ditinggalkan

masa depan yang semakin kelam.

.

keperitan kesan perang itu memang tak terfikirkan

selagi kita tetap asyik keenakkan mendengar dentum mesingan

menghargai kematian dengan kiriman bunga-bunga

takziah dan mimik sedih yang terlalu dibuat-buat.

.

kematian itu memang sudah tidak ada untuk pejuang

bagi mereka hanya ada kehidupan di hari kemudian

tangisan anak yang kehilangan ayah

dan pertanyaan yang tak kan mungkin bisa terjawab.

Telanai, 12.49 pagi, 12 Jun 2003

Bagiku Perang:

perang itu adalah:

penderitaan…

kesengsaraan…

duka lara…

perang itu adalah:

kematian tragis…

tangisan hiba…

sejambak ucapan takziah…

perang itu adalah:

mayat-mayat bergelimpangan…

selangit kata sanjungan…

tembakan kehormatan…

perang itu adalah:

kiriman body-bag

untuk balu yang sayu…

untuk anak-anak termangu…

bunga popi lambang darah tertumpah ditadah

adalah pesta keghairahan menyambut perang itu…

Telanai, 11 November 2002

Kesyukuran; Tuhan Hadirkan Seorang Kawan

Erti Sebuah Kematian

(belasungkawa untuk keluarga arwah Mahmud Saedon)

yang penuh taqwa dan iman

mati itu tetap dengan senyuman

mata dan mulut yang terkatup.

.

dan kita yang ditinggalkan

mulut terlompong. Resah. Kehilangan

terasa ingin mendustakan kebenaran.

.

berita yang kuterima tengahari itu:

Datuk Professor  sudah pergi meningalkan kita!

untuk selamanya…

bagaimana mungkin?

.

dan aku menerjah lautan manusia tengahari itu

keruangan di mana dia sedang dikafankan

sempat kutatapi wajah yang pasrah

bersih, mulus dan terlihat indah

gagah menghadapi-Mu ya rabbi…

.

kukucupi dahi ibunya tanpa kata

namun mata kami bicara seribu makna!

.

kau yang pernah terpinggirkan

demi persahabatan, darah dan taat setia

syukurku pada percemaran duli mereka

turut belasungkawa.

.

wajah-wajah sedih yang terkejut. Kehilangan kata-kata

itulah kita sebenarnya:

acuh tak acuh di sisinya. Tercari-cari bila tiada:

kerana dia bukan lagi saingan kita!

Telanai, Julai 2002

Buku Ini Aku Pinjam

(kukembalikan nanti dengan hatiku)

buku ini aku pinjam

bukan untuk membaca isinya. Tapi hatimu.

.

buku ini aku pinjam

untuk besok kukembalikan. Dengan salam kasihku.

.

betapa bahagia saat itu

dapat melihat kelibatmu

biar hanya sebentar

senyummu itu. Akan kubawa ke dalam mimpiku.

.

indah matamu bercahaya

wajah melankolis, ayu dan manja

pipi bak pauh dilayang

suara lemak merdu

betis bagai bunting padi

dan kau tanya padaku erti semua itu

aku tak tahu, singkat jawabku, diiringi ketawa lirihku

(ia kudapat dari sebuah buku yang kupinjam dulu)

aku tersipu.

.

namun, senyumanmu tetap tersungging di bibir merah bak delima

aku cinta, sungguh mati, aku cinta

dan kau tanya padaku apa erti cinta

bagaimana mungkin aku tahu untuk menjawabnya

(buku mengenainya belum pernah aku pinjam).

.

loceng sekolah jam sepuluh setia kunantikan

bergegas lari ke kelasmu untuk sebentar menikmati senyummu

dan seperti selalu, aku ingin pinjam buku.

.

di rumah, bukumu itu kurenung saja

harum baunya seharum peluhmu

aku rindu padamu.

.

maka, hari-hari bukumu aku pinjam

supaya dapat bertemu dan melihat mata indahmu.

love-8204

Telanai, 28 November 2002

Berita Hari Ini

(Borneo Bulettin, Jumaat 23 Februari 2001)


muka 1:

titah dan perancanaan bijak Kebawah Duli

penghapusan pengangguran bersistematik

anak-anak kera di hutan yang disusukan

sedang graduan UBD terasa gundah tidurnya

makan tak lalu, kenyangnya bila?

dan mandi yang tak basah…

.

hari ini, sesuap nasi sudah terasa betapa mahalnya

anak-anak muda bakal lupa diri:

budaya songsang dirangkulnya

untuk terus hidup:

sedutan nafas sudah perlu bayarannya

hatta, penyudah hajat:

perlu disediakan syilingnya…!

.

semacam tidak mudah untuk dipercaya

bertelur di kepuk padi seekor ayam tersungkur mati…

.

di mana nian kamu wahai para cendikiawan?

enaknya duduk di kerusi empuk

nasib anak bangsa mahu di kemanakan?

gaji beribu dan keenakan main golf di JPGCC

megah bicara tentang nilai budi…

.

dan kamu orang berdasi yang sibuk

40 ribu membuat kau manusia kaku

pinjaman sejuta tentunya tanpa bunga

suaramu di mana?

hanya untuk mengajuk suara Baginda?

seperti tiong berkalong emas di tengkuknya…

sedang rakyat seperti gunung berapi bunting lava

menanti saat untuk memuntahkan laharnya…!

.

.

muka 2:

sepuluh jari ditadah, memohon pada Ilahi

kekerasan dihadapi demi sebuah reformasi

kekejaman pemerintahan kuku besi

lapanbelas tahun bertakhta

masih ingin terus bertakhta lagi

langit yang hendak ditongkat

direstui para malaikat…?!

.

“aku tak dapat terima usul kamu” katanya singkat

“polis, tentera setia di belakangku”

sedang pembangkang cuma ada tasbih dan doa…

“tanpa gillettee Muhammad berjanggut”

teruslah berdoa, kerana aku juga ulama

yang ulung dan terbilang

kerana akulah maha segalanya…

“dan kerjaku belum selesai…

lupakah pada isak tangisku dulu…?”

.

sedang Datuk Seri biar terus jadi faktor penentangnya

orang Melayu, bangsa yang mudah lupa

esok, lusa, orang sudah tidak mengingatinya

reformasi dokongan kapitalis

punca kehancuran sebuah pancasila

akan hilangkah Melayu di dunia…?

.

.

muka 3:

bicara tentang perusahaan kecil dan sedarhana

siapakah yang kecil, dan siapa pula sedarhana…?

modal berjuta-juta, simpanan puluhan ribu interestnya

ada bangunan pencakar langit, ada hotel, ada Jaguar

ada driver, ada tukang kebunnya dan amah lima…

Rolex King disalut intan permata

kasut dan kot berjenama Dunhill

namun berbangga dengan status pengusaha kecil…

dan aku merasa kelucuannya…

.

sedang para pemandu teksi marah-marah

periuk nasi mereka sudah tertumpah

dek pengusaha hotel yang rakus ambrah

dengan teksi haram jenama Mercedes dan Volvo

memapat pendapatan yang lebih separuh

lima belas ringgit sehari:

sedang anak-anaknya masih menyusu lagi…

di mana kamu nasionalis bangsaku?

.

.

muka 4:

2001

Tahun Melawat Brunei, termaktub sudah

seorang ibu tua, anak dan kakak kandungnya

berbangsa Filipina, Islam agama anutannya…

berbahagia merapati dermaga Serasa

penuh syukur menginjak bumi Melayu Islam Beraja

terkejut mereka kemudiannya:

pasport dicop 24 jam saja…

konon Brunei negara kecil

maka tindakkan justified jadinya…

.

aku pun ketawa semahu-mahunya…

.

persembahan dan nyanyian diharamkan…

di manakah dihumban nilai budaya tercinta…?

siapa bisa kenal Alus Jua Dendang

serta pendiangdangan yang semakin kesunyian

Kris Dayanti dan Anang bakal tak dikenali lagi

kita haramkan segala bentuk bunyi

melalaikan memang, dan berpeluk keasyikan

pergaulan bebas dan maksiat tanpa batas

namun terhalal juga bila dianjurkan putera

ulama kita apa cerita…?

sedang pelancong terpingga-pingga

khazanah negara melimpah di tempat mereka

bangunan pencakar langit, IBB

bukan tandingan Petronas Twin Towers, pasti…

sedang Empire biar berapa bintang sekalipun

Sutera Harbour di dekatnya

tandingan abadi, aduh, murah lagi…

.

.

epilog:

dan aku baru mengerti erti kecewa

si manis 17 yang mesra menyapa

allahu akbar jelas di bibirnya

kegembiraan menyambut kelahirannya dulu

setelah satu ketika tertumpah darah

perjalanan terasa payah

Merentasi jerjak-jerjak besi pemisah

tidur yang tetap terasa gundah

mimpi tak kesampaian

hati terus bernanah

marah tak terpujuk

impian murni turut punah.

.

sedang orang berdasi sumbang senyumannya

kumpullah harta selagi terdaya

seperti telur di hujung tanduk

resah dalam suka…

menangis dalam ketawa…

takut hilang martabat

bersenandung lagu ‘Kita Serupa’.

dari rakyat kepada rakyat untuk rakyat

kita bangunkan sebuah kota kasih sayang

Brunei Darussalam yang bahagia…

Telanai, 23 Februari 2001